Masjid Itu Kini Sendiri…

Kota yang diamuk perang Islam-Kristen itu kini terbelah. Di ujung selatannya yang masuk wilayah Muslim, sebuah masjid berlantai tiga hingga kini masih berdiri kokoh. Menaranya yang menyatu dengan atap masjid juga masih tegak menjulang. Namun di sekelilingnya yang terlihat hanya hamparan reruntuhan yang hampir rata dengan tanah. Masjid bawah tanah tuban salah satu masjid unik di jawa timur.

Tiga tahun lalu, hamparan puing seluas satu setengah hektar itu adalah pemukiman Muslim terbesar di pusat kota Ambon. 300 KK lebih yang hampir seluruhnya Muslim, menempati kampung yang terletak di Kelurahan Wainitu, Kecamatan Nusaniwe, Ambon itu.

Masjid Itu kini sendiri

Kini, kampung Waringin tinggal legenda. Namun sejarah akan terus bertutur. Waringin adalah kampung Muslim pertama di Maluku yang menjadi sasaran penghancuran massa Kristen sejak meletusnya Gerakan Idul Fitri Berdarah 19 Januari 1999. Masjid bernama Al Mukhlisin itu kini menjadi satu-satunya saksi bisu kekejaman dan kebiadaban pasukan salib.

Sore itu, Selasa, 19 Januari 1999, jarum jam telah menunjuk pukul 15.00 WIT. Bagi Muhammad Tamher (20), warga Waringin, kebahagiaan Idul Fitri seperti berlalu sekejap. Aktivis remaja masjid itu tengah bersilaturrahmi dengan tetangga-tetangganya ketika lonceng di Gereja Rehoboth, Batu Gantung, tak jauh dari Waringin, berdentang.

Tak lama kemudian tiang listrik ramai dibunyikan. Suasanapun berubah tegang. Tapi belum sempat ketegangan itu mencair, empat buah truk bermuatan penuh massa tiba-tiba telah menuju ke arahnya. Tamher yang saat itu berada di pinggir kampung, hanya memandang heran ratusan massa di atas truk yang beratribut serba hitam itu. “Cras!” sebuah sabetan pedang tiba-tiba telah menggores telinganya. Darah pun deras mengucur.

Seperti telah dikomando, massa di truk itu langsung turun dan melempari kampung Waringin. Tamher segera berlari menuju ke dalam kampung. Tak dinyana, hampir dari semua sudut, lemparan batu dan panah api telah menghujani kampung yang terdiri dari 4 RT itu.

Waringin yang dikelilingi kampung-kampung Kristen seperti Batu Gantung, Wainitu, Kuda Mati, OSM, dan Talake Dalam, akhirnya menjadi bulan-bulanan serangan pasukan Kristen. Situasilah yang kemudian memaksa warga untuk bertahan. Tidak ada lagi jalan keluar karena kampung itu telah dikepung. Beruntung, ratusan panah api yang dilepaskan pasukan merah, masih bisa diantisipasi warga saat itu. Setiap api yang mulai membesar langsung bisa dipadamkan. Ketegangan yang sudah dirasakan warga sejak sore makin mencekam, begitu suara tembakan yang dilepaskan aparat keamanan untuk mengusir para perusuh, ramai terdengar.

Situasi tegang inilah yang menghantarkan Ali Uma (60), warga Waringin, menghadap sang Khalik. Penderita jantung itu shock mendengar banyaknya suara tembakan dan ketegangan sepanjang siang. Kematian salah seorang warganya, kontan menyulut kesiagaan warga Waringin. Mereka terus bersiaga hingga pagi menjelang.

Esoknya, Rabu, 20 Januari 1999. Keheningan dan keharuan menggelayuti langit Waringin saat jenazah Ali Uma dimakamkan, sekitar pukul 10.00 WIT. Saat itu, Waringin masih terkepung. Jenazah Ali akhirnya dimakamkan di dalam kampung.

Di tengah kedukaan itu, ketegangan kembali menyeruak. Di sela-sela acara pemakaman, panah api tiba-tiba menghujani kampung Muslim itu. Para pelayat pun bubar menyelamatkan dirinya masing-masing.. Kali ini, gelombang serangan separatis Kristen itu seperti dilipatgandakan. Ratusan pasukan Salib berseragam hitam dan berkalungkan salib di leher serta dengan pedang yang juga seragam, sudah mulai menembus pertahanan belakang Waringin. Di sinilah, puluhan rumah warga Muslim berhasil dibakar.

Teriakan “Mena Moeria Merdeka -salam khas RMS-“, “Hidup Israel”, dan “Hancurkan Palestina II” makin nyaring diteriakkan pasukan Kristen ketika api mulai merambah rumah-rumah warga Muslim lainnya. Kebencian ‘anak-anak Tuhan’ terhadap umat Islam, benar-benar ditumpahkan hari itu. Wanita dan anak-anak kecil dengan seragam hitam dan berbagai senjata juga turut dalam barisan pasukan Salib.

Tak sampai dua jam, api sudah hampir melalap habis seluruh kampung. Saat itulah diputuskan oleh warga, untuk segera mengungsi dengan menerobos kepungan di sisi utara menuju Asrama Polres di Perigi Lima dan Waihaong. Dengan teriakan takbir, satu persatu rombongan warga berhasil menembus pasukan Kristen yang surut seketika mendengar pekik takbir.

Di tengah deru penyerangan kelompok Kristen, pertolongan Allah itu datang. Walaupun pemukiman yang menghimpitnya habis terbakar, Masjid Al Mukhlisin tetap selamat dari jilatan api. Seluruh warga Muslim juga berhasil dievakuasi, tanpa ada korban.

Bagi Nurlaila (29), peristiwa di Hari Idul Fitri itu seperti sepenggal episode saja. Jauh sebelum itu, prolog peristiwa itu sudah dia rasakan ketika sejumlah warga Muslim Waringin memergoki rapat-rapat gelap dan mencurigakan di rumah-rumah warga Kristen.

Stok sembako dalam jumlah tak wajar seperti gula pasir sebanyak satu zak, dijumpai di beberapa rumah warga Kristen, tetangganya. Tak ada jawaban dari mereka ketika hal ini ditanyakan. Tapi melalui mulut seorang anak kecil anak tetangga sebelah rumahnya, misteri itu sedikit terjawab. “Preman Jakarta mau serang BBM -Buton Bugis Makassar, red-,” kenang Nurlalila menirukan anak kecil itu.

19 Januari 1999, apa yang pernah diucapkan anak seusia SMP itu menjadi kenyataan. Bukan hanya Buton-Bugis-Makasar yang dibantai kelompok Kristen, tetapi semua warga Muslim tak luput dari penyerangan. Simbol-simbol Islam juga turut dihancurkan dalam setiap aksi penyerangan pasukan Kristen. “BBM lebih pas singkatan dari Bunuh Basmi Muslim,” kata Husein (56), tokoh yang dituakan masyarakat Waringin.

Ketika hari masih siang, katanya, mobilisasi massa Obet -sebutan untuk warga Kristen Maluku-, sudah terlihat. Dengan atribut seragam, mereka sudah memenuhi jalan-jalan di sekitar Waringin. “Tapi setelah lonceng di Gereja Rehoboth bunyi, barulah dorang (mereka) serang katong,” kata Husein.

Penyerangan kampung Waringin, kata Nurlaila, juga terlihat seperti sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya. “Senjata-senjata yang digunakan mereka, ternyata diambil dari gudang kabel di kantor Telkom Talake -di sisi Barat kampung Waringin, red-,” kata Koordinator Pengungsi THR ini.

Bagi Husein, peristiwa yang telah merenggut rumah dan hartanya itu adalah sebuah kejahatan. Ayah dua anak yang kini menempati kamp pengungsi di bekas Taman Hiburan Rakyat (THR) Waihaong, Ambon, hanya bisa berharap, para penggerak kerusuhan itu ditangkap dan dihukum. “Katong cuma orang biasa, Mas. Rumah mungkin seng bisa katong dapatkan lay. Tapi dorang harus dapa hukum,” katanya polos.

Kini, 200 KK lebih menempati ‘kamp pengungsian’ THR yang luasnya tak seberapa itu. Sementara lainnya, terpaksa eksodus keluar Maluku. Ruang yang sempit dan pengap, lingkungan yang kumuh, adalah bagian keseharian yang harus dirasakan ratusan pengungsi Waringin ini. Gangguan kesehatan, kemerosotan moral, masalah pendidikan, menjadi permasalahan yang setiap saat mengancam mereka dan ribuan pengungsi Muslim lainnya.

Waringin memang tinggal nama. Tapi bukan berarti kedengkian kelompok Kristen itu hilang. Medio Juli 2001, masjid Al Mukhlisin coba dirusak kembali. Walaupun upaya ini gagal, tapi grafiti yang bernada menghina Islam seperti ‘Acang PKI’, ‘Jihad Makan Babi’, sempat menghiasi dinding masjid.

Sebelumnya pada Juni 1999, masjid itu juga coba dibakar oleh sekelompok pemuda Kristen. Sebagian bangunannya sempat hangus walaupun tidak menyebabkan kerusakan berarti. Ini terjadi setelah mobil bekas berisi tabung elpiji yang sengaja dimasukkan ke dalam masjid, diledakkan warga Kristen.

Hingga kini, masjid Al Mukhlisin memang masih bisa menantang kebencian dari komunitas-komunitas Kristen yang mengelilinginya. Tapi sampai kapan masjid itu mampu bertahan, wallahu a’lam. Yang jelas, masjid itu kini sendiri

Leave a Reply