Nikmati Solat Berjamaah di Masjid Nabawi  dengan Harga Umroh Murah

Azan Dzuhur menggema dari menara Masjid Nabawi. Orang-orang terlihat berbondong-bondong menuju masjid. Sementara aku dan kawan-kawan yang satu rombongan denganku baru sampai di hotel, yang tidak jauh dari masjid. Kira-kira hanya butuh waktu 5 menit berjalan kaki untuk sampai di masjid. Aku langsung bergegas menuju kamar. Tidak lama setelah itu aku berjalan menuju masjid.

Kesan pertama yang aku rasakan, yaitu bahwa Madinah mempunyai “magnet” tersendiri, sebagaimana Mekkah. Sangat bersyukur rasanya karena dengan harga umroh murah bisa menikmati solat berjamaah di Masjid Nabawi. Aku menikmati shalat di Masjid Nabawi. Dari raka’at pertama hingga raka’at terakhir berjalan begitu bermakna. Rasanya berbeda jika dibandingkan saat aku shalat di Masjid Amr bin Ash di kawasan Mesir Lama dan Masjid al-Azhar di kawasan Husein, Kairo.

Kedatanganku ke Mekkah bukan semata-mata inisiatif diri sendiri, tetapi juga dalam rangka memenuhi panggilan Nabi. Denga Biaya umroh Jakarta yang amat sangat murah, akhirnya pergi ke Mekkah. Bagi setiap orang yang melaksanakan haji dan umrah sejatinya dapat berziarah ke Madinah untuk mengenang jejak-jejak kehidupan dan perjuangan beliau. Sambil menunggu giliran para jamaah yang sedang berziarah ke makam Nabi, aku membaca surat-surat penduk di dalam Al Quran.

Membaca Al Quran di tempat turunnya Al Quran. Itulah nuansa yang ingin aku rasakan. Jikalau di Mekkah, Gua Hira merupakan tempat bersejarah dalam turunnya wahyu pada periode Madinah. Tidak terasa aku sudah dua jam membaca Al Quran. Tidak ada tanda-tanda capai sedikitpun. Padahal aku baru sampai dari perjalanan panjang , Mekkah.

Saat ada waktu luang, aku manfaatkan untuk berziarah ke makam Muhammad SAW. Momen yang paling ditunggu-tunggu dalam hidup, yaitu melakukan perjumpaan spiritual dengan utusan Allah SWT. Aku langsung membaca doa, Assalamu ‘alayka ya habiballah, assalamu’alayka ya sayyid al-mursalin wa khatam al-nabiyyin, assalamu ’alayka wa ala alika wa ashabika wa ahli baytika wa ala al-nabiyyin wa sair al-shalihin: asyhadu annaka ballaghta al-risalata wa addayta al-amanata wa nashahta al-ummata, fajazakallahu anna afdhala ma jaza rasulan an ummatihi. (Salam bagimu, wahai Rasulullah. Salam bagimu, wahai utusan Allah SWT dan penutup para Nabi. Salam bagimu, keluargamu, para sahabatmu, ahlul bait, para Nabi dan segenap orang-orang saleh. Aku bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan ajaran, menyampaikan pesan, dan memberikan nasihat kepada umat. Semoga Allah melipatgandakan pahala kepadamu atas kebaikanmu terhadap umatmu).

Tanpa terasa air mataku berlinang deras. Sebuah kebahagiaan yang amat memuncak, karena penantian dan mimpi yang sudah begitu lama itu telah menjadi kenyataan. Aku mengumandangkan shalawat dan salam kepadanya sebanyak-banyaknya. Sebab, semakin banyak pula pahala yang aku dapatkan.

Saat itu, aku menginformasi kepada beliau perihal syariatnya. Yaitu perihal mereka yang kerapkali memahami syariat sebagai hukum positif, seperti rajam dan potong tangan. Sementara itu, di pihak lain ada yang memahami syariat dalam bentuknya sebagai tujuan-tujuan pokok syariat atau biasa yang dikenal dengan Maqashid al-Syariah. Para pendiri bangsa ini telah memilih pandangan yang kedua daripada pandangan yang pertama. Fakta ini berbeda dengan Arab Saudi, Sudan, Somalia, Pakistan, dan Taliban. Aku bertanya-tanya, manakah yang lebih baik antara keduanya? Nabi sendiri kira-kira memilih yang mana?

 

Leave a Reply